Tukang Sampah

 

tukang sampah

Hari ini tukang sampah mampir di daerah rumah kami, jadwalnya dua minggu sekali. Sekalinya datang, satu truk besar sampah langsung menggunung tinggi. Ada hal unik yang mungkin bisa kita pelajari agar tak lupa diri. J

Tukang sampah hari ini jumlahnya 8 orang. Turun dari truk dan mengambil sampah dari setiap rumah lantas melemparnya ke truk. Mereka yg di atas truk menyusun sampah sedemikian rupa supaya muat sana sini. Tak jarang beberapa kresek sampah dinjak-injak biar sedikit mengecil.

Truk sampah mungkin hanya beberapa detik berada di depan setiap rumah, tapi baunya..ampuuun dari ruang tamu sampai dapur bisa tercium. Yaa..bayangkan saja..sampah rumah tangga yang terpendam selama 2 minggu saling dipertemukan di truk. Sisa makanan yang jadi membusuk, pampers bekas dan lain-lain saling kolaborasi menciptakan bau yang sangat tidak sedap. Namun.. perhatikanlah para tukang sampah itu..

Ya… rata-rata mereka tak pakai masker..mungkin percuma karena mau ditutup segimana juga oksigennya sudah bercampur dengan bau amonia sampah. Yang lebih emezing.. kalau di tempat pembuangan sampah para tukang sampah ini makan dengan santainya , ada yang dengan mie ayam, nasi bungkus dan tidak lupa sebotol air.

Pertanyaannya.. tidakkah mereka bau? Jijik? Dan lainnya? Estimasi jawabannya adalah : Ya mereka jijik, bau.. tapi mau apalagi karena itu pekerjaan mereka. Atau.. Ya memang jijik dan bau tapi mereka tak merasakan itu karena mereka hidup di dalamnya, menjadikan itu bagian hidup mereka. Mereka menghirup bau sampah dengan biasa saja, sedangkan kita yang tak biasa akan kewalahan menahan nafas luar biasa. Apa yang bisa kita pelajari??

Kita bisa karena terbiasa. Segala sesuatu jika telah menjadi bagian hidup kita akan terasa lebih ringan menjalankannya. Mereka para tukang sampah pasti ingin hidupnya berubah, jelaslah mereka bekerja dengan upah seadanya, belum lagi ancaman penyakit..tetapi selama belum ada penggantinya mereka berusaha menerima. Begitu dengan kita.. berdamai dengan ujian yang Allah berikan akan membuat pekerjaan lebih ringan sebab hati juga tenang..dari pada terus menggerutu juga mengeluh lebih baik berbaik sangka dan mencintai pekerjaan kita. J

Wallahua’lam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s