Uang, Anak dan Permasalahannya

ayah idaman

Uang, Anak dan Permasalahannya –

“Ketika kita mengajarkan pada anak-anak segala hal tentang kehidupan, mereka mengajarkan pada kita makna keidupan yang sebenarnya.”

(Angela Schwindt-Pemerhati anak, pelopor home schooling di Oregon, Amerika serikat)

Berbicara tentang anak akan kita temui banyak keunikannya. Makhluk yang Allah titipkan pada setiap orangtua ini memiliki hak untuk diberikan makna hidup agar ia menjadi manusia yang menghargai hidup. Namun tugas ini tidaklah mudah. Kepolosannya juga keterbatasannya dalam memahami makna hidup itu sering membuat orangtua akhirnya melakukan tindakan yang tak seharusnya, dengan alasan “yang penting anak diem”.

Fenomena hari ini, hampir di setiap gang jalanan akan nampak anak-anak kecil yang berbahasa tak baik, membuang sampah sembarangan dan hasilnya ketika telah besar, tak sedikit dari mereka menjadi hobi tawuran, pembohong dan koruptor.

Soal yang terakhir, mungkin ini tak kalah penting namun sering dilupakan. Ya, “mengenal Uang”. Tak kenal maka tak sayang. Tak kenal uang maka tak sayang uang. Kurang lebih begitu. Hari ini, seperti itulah pemandangan yang nampak, anak-anak banyak yang tak kenal uang, ingin banyak uang tapi tak ingin usaha, berujung pada sikap mencuri.

Sederhananya inilah kuncinya, mengajarkan pada anak hakikat sebab akibat. Jika ingin uang sebanyak X maka sebanyak Y harus diselesaikan. Intinya adalah, “Jangan memberikan uang pada anak tanpa sebuah usaha”. Pendidikan ini baik selama kita sebagai orangtua mau sabar dalam membentuk karakternya. Jika tak sabar, sikap ini akan menciptakan sifat pelit dan kikir pada anak. Ia jadi enggan memberi karena merasa yang diberi harus berusaha terlebih dahulu.

Maka inilah tugas orangtua.. satu, mengajarkan pada anak tentang mendapatkan uang. Simulasi yang digunakan misalnya membantu ayah mencuci mobil akan mendapat sekian rupiah. Dua, mengajarkan pada anak tentang beda antara hemat dan pelit. Hemat adalah mengeluarkan uang seperlunya karena tahu sulitnya mencari uang. Tapi soal bersedekah dan menolong orang rasa hemat itu harus dirubah menjadi imbalan pahala. Ketiga, orangtua harus mengajarkan untuk mempergunakan uang itu sebagaimana mestinya.

Seperti apa orangtua seperti itulah anaknya. Konsisten dalam memberi peraturan, terkadang “tega” memang diperlukan demi mendidik anak, seperti tega untuk tak membelikannya mainan meski ia telah merengek meronta karena Anda telah membuat perjanjian dengannya dan sang anak belum mau memenuhinya.

Selamat berjuang mencetak anak-anak yang mengenal uang dalam jalan kebaikan.

Wallahua’lam

Referensi : Buku Best Seller “Ayah Menjawab” (Ayah Edy)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s