Cerita Pendek : Oase Hikmah

kondisi menunggu di rs cicendo bandung

Oase Itu Bernama Hikmah –  Hari itu di tengah malam Haidar baru bisa merasa lega. Akhirnya ia mampu memenuhi tuntutan rumah sakit untuk membayar biaya kelahiran anak ke 2 nya, dengan proses operasi dan menelan biaya Rp 10.000.000. Ia hanya seorang supir bus dengan gaji secukupnya, mendengar kata sepuluh juta membuatnya ketar-ketir memutar otak mencari kemana ia bisa mendapatkan uang itu. Ada keluh dan gerutu yang teucap dari mulutnya. Sungguh keadaan seperti ini tak terbayangkan olehnya. Istrinya nampak sehat dan baik-baik saja, namun siapa yg tahu di detik-detik melahirkan sang istri mendadak pingsan karena tekanan darah yang terlalu tinggi. Ia berpasrah, meski keluh itu ada.

Dan Allah sepertinya terlalu cinta pada lelaki yang tak pernah lupa shalat meski tengah menarik bus ini. Allah pertemukan ia dengan seorang wanita yang sudah keriput kulitnya. Wanita ini juga tengah ada di kasir, hendak melunasi administrasi rumah sakit. Enam puluh empat juta rupiah (Rp 64.000.000) jumlahnya. Wanita itu membayar dengan gepokan uang dalam bungkusan kertas. Setelah selesai, wanita itu masih tenang, lalu tersenyum pada Haidar, hingga percakapan itu di mulai.

Sakit Apa Pak keluarganya?”

“Hmm itu Bu istri saya melahirkan anak kedua kami tapi dengan cara operasi.”

(Dengan mata berbinar) “ MAsya Allah.. selamat ya Pak, pasti bahagia sekali. Ga papa Pak yang penting keduanya selamat..itu anugrah.”

(Haidar masih menyimpan resah memikirkan dari mana ia akan mengganti pinjaman sepuluh juta itu) “Kalau Ibu, siapa yang sakit Bu?”

“Suami saya Pak. Sudah tiga bulan di ICU. Dua hari lalu habis operasi jantungnya.”

“Innalillahi, semoga lekas sehat Bu”

(Dengan Senyuman) “Suami saya sudah sehat Pak, sudah bertemu Rabbnya saat operasi. Saya hari ini membayar seluruh biaya dari rawat inap hingga kemarin operasi, dan saya dapati suami saya sudah tiada. Bapak pasti lebih bahagia ya? Meski uang keluar tapi orang-orang yang Bapak cinta masih bisa selamat dan masih bisa bertemu dengan kita.”

Diam. Haidar hanya mampu diam dan seketika beristigfar. Ia sadari kebodohannya yang menjalani semua ujian dengan keluh kesah.

Hari itu, Haidar belajar tentang hikmah dalam setiap episode kehidupannya. Pertemuannya dengan wanita tadi membuatnya tersungkur sujud memohon ampun atas sikapnya. Ya.. betapapun besar ujiannya, Allah selalu siapkan jalan keluarnya. Pertemuan itu adalah takdir dari Allah, mungkin agar Haidar tak terlalu jauh lagi menyesali ujian itu..dan agar ia segera bersyukur atas lahirnya mujahid baru yang akan menghiasi hidupnya.

 

Wallahua’lam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s