Beribadah Seolah Mati Besok

melakukan nazar dalam pandangan islam

Beribadah Seolah Mati Besok – Hampir setiap hari dalam seminggu, kita disibukkan oleh pekerjaan pekerjaan rutin kita. Ada yang bekerja di perusahaan, dan kita sibuk di dalamnya. Pergi untuk mencari nafkah, pulang istirahat dan berinteraksi dengan keluarga. Begitu seterusnya setiap hari, setiap pekan, setiap bulan dan tahunnya. Hanya saja, rutinitas ini bagi setiap muslim memiliki keutamaan yang berbeda. Segala hal yang dikerjakan dan itu diniatkan untuk mendapatkan ridha Allah, maka itu Allah nilai sebagai ibadah dan kita mendapatkan pahala darinya.

2 pekan ini untuk saya pribadi, menjadi 2 pekan penuh dengan muhasabah. Bagaimana tidak, ada 2 orang tetangga yang Allah panggil, mereka meninggal dunia. Yang satu seorang ibu usia 45 tahunan, yang satu seorang kakek usia 70 tahunan. (semoga Allah memberikan rahmat bagi mereka berdua dan mendapatkan khusnul khatimah, mendapatkan kebahagiaan di alam kubur sana).

Kematian adalah pelajaran terbaik, bagi kita semua yang terlampau disibukkan oleh dunia maka kematian adalah teguran yang Allah berikan agar sejenak kita mengingatNya. Kembali kita ingat, berapapun usia kita, masih muda ataupun sudah lanjut usia tetap memiliki peluang yang sama untuk mati. Bahkan Abu Bakar pun berkata bahwa yang paling dekat adalah kematian yang paling jauh adalah hari kemarin.

Oleh karenanya, kita coba untuk memaksimalkan apa yang kita punya hari ini. Kita tak tahu amalan yang mana yang akan Allah terima. Dan kita juga sangat buta akan kapan kita pastinya meninggal. Hanya satu yang mesti kita lakukan, beribadah dan memurnikan ibadah kita hanya kepada Allah sehingga ini menjadi bekal yang bisa kita bawa untuk menghadapi hari kemudian.

Bekerjalah seakan kau akan hidup selamanya, dan beribadahlah seakan kau akan mati besok. Keseimbangan, inilah yang islam ajarkan. Kita mesti punya mimpi besar dan cita cita dalam kehidupan ini agar kita bisa bermanfaat bagi orang banyak, namun kita juga mesti ingat bahwa hidup kita tak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Meski kita ingat kembali, dunia dan akhirat perbandingannya sangatlah jauh… Lama hidup di dunia seperti kita dalam perjalanan dan istirahat di sebuah pohon, lalu saat kita melanjutkan perjalanan maka hanya sesebentar itu saja dunia ini.

Relakah dirimu, menyertai segolongan orang… mereka membawa bekal sedangkan tanganmu hampa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s