Syarah ushul isyrin hasan al banna bagian 2

Lanjut lagi ya, ushul isyrin dari buku syarah risalah taalim dan buku menyelami samudra 20 prinsip hasan al banna poin berikutnya :

6. Setiap orang dapat ditolak ucapannya, kecuali al ma’shum (Rasulullah saw). Segala hal yang datang dari para pendahulu yang sesuai dengan al quran dan as sunnah kita terima. Bila tidak, maka al quran dan as sunah lebih utama untuk diikuti. Namun demikian, kita tidak boleh mencaci maki dan menjelek jelekkan pribadi mereka dalam masalah masalah yang masih diperselisihkan. Serahkan saja pada niat mereka masing masing karena mereka telah mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan.

7. Setiap muslim yang belum mencapai kemampuan menelaah dalil dalil hukum furu'(cabang), hendaklah mengikuti salah satu imam (pemimpin agama). Namun lebih baik lagi kalau sikap mengikuti tersebut diiringi dengan upaya semampunya dalam memahami dalil dalil yang dipergunakan oleh imamnya. Hendaknya ia mau menerima setiap masukan yang disertai dalil, bila ia percaya pada keshalihan dan kapasitas orang yang memberi masukan tersebut. Bila ia termasuk ahli ilmu, hendaknya selalu berusaha menyempurnakan kekurangannya dalam keilmuan sehingga dapat mencapai derajat mujtahid (penelaah).

8. Perbedaan paham dalam masalah masalah furu’ (cabang) hendaklah tidak menjadi faktor perpecahan dalam agama, tidak menyebabkan permusuhan dan tidak juga kebencian. Setiap mujtahid akan mendapatkan pahala masing masing. Tidak ada larangan melakukan studi ilmiah yang jujur dalam persoalan persoalan khilafiyah (masalah masalah fiqih yang masih diperselisihkan oleh para ulama), dalam suasana saling mencintai karena Allah dan tolong menolong untuk mencapai kebenaran yang sebenarnya. Studi tersebut tidak boleh menyeret pada debat yang tercela dan fanatik buta.

9. Memperdalam pembahasan tentang masalah masalah yang amal tidak dibangun di atasnya (tidak menghasilkan amal nyata) adalah sikap memaksakan diri yang dilarang islam. Misalnya, memperluas pembahasan tentang berbagai hukum bagi masalah masalah yang tidak benar benar terjadi, memperbincangkan makna ayat ayat al quran yang belum dijangkau oleh ilmu pengetahuan, perdebatan dalam membandingkan keuatamaan sahabat, atau memperbincangkan perselisihan yang terjadi diantara mereka. Setiap orang memiliki keuatamaan sebagai sahabat Nabi saw, dan pahala dari niat mereka. Sedang mentakwil perselisihan mereka dapat menghindarkan diri dari dosa.

10. Ma’rifah (mengenal) Allah Tabaraka wa ta’ala, meng Esakan-Nya dan me-Mahasuci-kan Dia adalah setinggi tinggi tingkatan akidah islam. Sedangkan ayat ayat dan hadits hadits shahih tentang sifat sifat Allah adalah termasuk mutasyabihat. Kita wajib mengimaninya sebagaimana adanya, tanpa mentakwilkan dan tanpa ta’thil (pengingkaran), serta tidak perlu memperuncing perbedaan pendapat di antara para ulama tentang hal tersebut. Kita mencukupkan diri seperti apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya. ‘Dan orang orang yang mendalam ilmunya berkata, “kami beriman kepada ayat ayat yang mutasyabihat. Semua itu dari sisi Rabb kami” (Ali Imran : 7)

Artikel terkait 1 2 3 4

One thought on “Syarah ushul isyrin hasan al banna bagian 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s