Merasa pintar adalah awal kebodohan

anak sedang melukisCarilah ilmu sampai ke negeri Cina, inilah satu pesan yang Rasulullah saw sampaikan kepada kita, sebuah pesan sederhana namun menandakan mestinya belajar kapanpun dan sampai kapanpun. Lalu apa yang menjadi penghambat pembelajaran? Merasa pintar. Inilah awal dari kebodohan, awal dari sulitnya mencerna ilmu masuk.

Jadi kemarin kemarin ada satu kajian, dan anehnya selama 3 pekan berturut turut materi yang dibahas itu sama. Dalam hati saya merasa, “ko ini dibahas lagi ya?” Selama mengikuti kajian itu, pertanyaan yang muncul dalam benak saya “kenapa ini di sampaikan lagi? bukankah pekan kemarin sudah tuntas?” Meskipun pada akhirnya saya sadar, semakin kita merasa sudah pernah mendapatkan ilmu akan membuat kita enggan untuk mempelajarinya. Nah inilah awalnya kita menolak suatu ilmu.

Jika kita selalu berpikir ilmu itu dibutuhkan, maka kita mendapatkan satu bahasan sesering apapun itu akan memperkuat pemahaman kita terhadap ilmu tersebut. Mungkin ini juga yang menginspirasi dari mengapa membaca al fatihah minimal 17 kali perhari. Dalam sholat 5 waktu minimal berarti kita sudah mengulang ulang bacaan al fatihah. Al fatihah ini adalah suatu surat cinta dari Allah yang kita paling sering membacanya, dan subhanallah, kalau kita renungkan, sebenarnya isi dan maksud dari al fatihah itu luar biasa sekali.

Pentingnya pengulangan

Buat sekolah di negeri ini, anehnya ketika ada remedial ulangan itu seperti aib. Padahal dalam kehidupan sehari hari, remedial atau bisa dibilang pengulangan adalah satu proses untuk semakin menguatkan pemahaman. Misalnya kita belajar sepeda, jatuh bangun, jatuh bangun dan akhirnya bisa naik sepeda dengan lancar. Tapi setelah kita lancar selama 1 tahun kita lupa cara main bersepeda, beda lagi ceritanya.

Saya ingat satu serial kartun anime Slam Dunk, dengan tokohnya Hanamichi Sakuragi, poin paling penting dalam keberhasilannya belajar basket dari nol hanya 4 bulan adalah pengulangan. Dia bisa melakukan lay up karena terus latihan lay up berulang ulang. Dia bisa menembak 2 angka, karena terus latihan menembak sebanyak 10.000 kali.

Mengulang adalah ibu dari pendidikan. Jadi hindari perasaan merasa sudah pintar, bisa jadi itu yang akan membuatmu benar benar bodoh.

4 thoughts on “Merasa pintar adalah awal kebodohan”

  1. Itulah kenapa ya ternyata beberapa anak-anak yang ranking tinggi di sekilah kadang kalo ditanya pelajaran beberapa kelas sbelumnya bilang lupa karwna mereka bisa jadi ranking satu dengan menghapalkan bukan dengan memahami. Begitu hapal, ga pernahd iulang lagi deh pelajarannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s