Sejenak Bermuhasabah Bersama Hujan

hujaaanHujan membasahi bumi, Bawa kesegaran dalam gundah ini, Hapus semua kedukaan Yang pekat menyelimuti Jiwa yang menghamba

 Dan sujud pada-Mu, Tuk harap limpah ampunan Dalam doa ini

 Sesejuk angin yang berhembus, Kala tersadar limpah kasih-Mu, Tumbuhkan benih syukurku

 Ya Allah yang maha pengasih, Bimbinglah jalan hidup ku,Tuk selalu tuju pada keridhoan-Mu

(Gradasi, Syukur HambaMu)

* * *

            Mereka menggerutui hujan, seolah hujanlah pembawa sial. Namun di sisi lain sudut bumi ini ada banyak orang yang memahami hujan lebih dari sekedar air yang jatuh dari langit. Ada dari mereka yang memikirkan bagaimana bisa air turun dalam rintik-rintiknya seolah-olah langit seperti alat pemancar air (shower)? Ada juga yang memikirkan bagaimana bisa air turun bersamaan dalam kerapatan yg sama, dll.

Tapi, lain dengan kaca mata keimanan yang memandang. Bagi mereka yang beriman, hujan tak sekedar memenuhi otak mereka dengan segala hal ajaib mengenai gejala alam ini, tapi juga memenuhi hati mereka dengan keagunganNya yang MahaHebat dalam menciptakan segalanya.

Semoga kita terhindar dari golongan manusia yang mencemooh hujan. Seandainya mereka tahu apa saja yang membuat keimanan bisa bertambah karena hujan, niscaya mereka akan menyesal telah berkata demikian, kecuali mereka yang telah terlalu keras hatinya dalam menerima hidayah. Na’udzubillah

Sungguh nikmat menjadi pemilik keimanan, saat tersadar bahwa hujan adalah salah satu waktu yang Allah janjikan di dalamnya terkabul doa-doa, maka pasti ia tak akan berhenti berdoa.

Dan betapa indah Allah menempatkan kata hujan dalam kitabnya ,Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (“hujan”) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan “hujan” itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Albaqarah[2]:22)

            “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa “hujan” lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS.Albaqarah[2]:264)

Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah(infaq) dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh “hujan” lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka “hujan” gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.”  (QS. Albaqarah[2]:265)

Dialah yang menurunkan air “hujan” dari langit lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (QS.Al-an’am[6]:99)

Maha Besar Allah yang menjadikan hujan sebagai pelajaran untuk kita. Tatkala dalam kitabNya hujan menjadi perumpamaan bagi segala hal maka pasti hujan bukanlah hal sepele yang tak memiliki kebaikan. Bukankah tak ada yang sia-sia dalam penciptaanNya? Sudah seharusnya kita yg memiliki akal selalu bermuhasabah dalam segala penciptaanNya. Sungguh bahagia bisa menjadi seseorang yang selalu bersyukur dengan datangnya hujan, yang membuat hatinya langsung bergetar dan berdoa, yang membuat sujud dan pintanya semakin khusyu, yang membawa kedamaian dalam segala luka dan ujian.

Doa tidak tertolak pada 2 waktu, yaitu ketika adzan berkumandang dan ketika hujan turun” (HR Al Hakim, 2534, dishahihkan Al Albani di Shahih Al Jami’, 3078)

Selamat berdoa..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s