Tak Hanya Sekedar Tau

cantik

Hari itu, pagi yang cerah. Namun ternyata di sebuah sudut ruangan, kehangatan pagi tak dirasakan. Yang ada hanya dingin dari sikap sepasang suami istri yang telah lama menikah. Ini sudah hari kedua mereka saling diam. Tak bertegur sapa kecuali atas sesuatu yang berhubungan dengan anak-anak mereka.

Sebenarnya hal ini bukan untuk pertamakalinya terjadi. Seperti kebanyakan pasangan, selalau ada saja lika-liku yang menguji kesetiaan. Dan kali ini ujian itu hadir pada pasangan ini.

Berawal dari sebuah kejadian di suatu sore. Ketika suami pulang mencari nafkah, dan kala itu sang istri yang sedang mengurusi anak ketiga mereka yang baru berusia 4 bulan meminta tolong pada suaminya untuk mengambilkan kantong kresek di dapur. Hanya karena ini, pertengkaran itu dimulai.

Mungkin karena lelahnya, suami lupa pada kewajibannya untuk tetap membantu istrinya. Begitu dengan istri yang terlalu sibuk mengurus anak-anaknya hingga lupa tak menyambut dan melayani suaminya yang baru saja pulang menacari nafkah. Sang suami ini tetap membawakan kantong kresek yang diminta istrinya tersebut. Dengan wajah yang cemberut, suami melemparkan kresek itu. Sang istri merasa sikap suaminya tak seramah biasanya. Ia langsung berdiri dan meninggalkan anaknya yang harus berganti pampers. Kemudian mengambilkan teh hangat yang diberikan dengan tidak lembut juga kepada suaminya.

Malam harinya, setelah anak-anak tertidur, ketidaknyamanan ini coba mereka katakan. Namun rasa ego dalam diri masing-masing membuat maksud yang terucap disertai nada amarah. Sang suami berkata pa da istrinya,

“Ibu tahukan ayah itu cape kerja cari uang. Pulang-pulang bukannya disambut malah nyuruh cepet-cepet bawain kresek.”

Istripun melakukan pembelaan, “Ayah juga tahu bukan, anak kita masih kecil semua. Hanya ambil kresek kan gak akan satu jam!”

“ibu gak tau sih gimana capenya mencari uang itu. Ibu enak di rumah kalau nagantuk yaa tinggal tidur, lapar yaa tinggal makan, jenuh tinggal nonton lah, apa lah, bisa bebas. Nah ayah gak bisa seperti itu bu!”

“ayah kira ibu di rumah santei-santei? Itu kalau santai siapa yang masak? Piring, baju, halaman siapa yang bersihin?? Ayah enak ada temen-temen disana. Bisa ketawa-ketawa. Ibu jenuh disini, tiap hari begitu lagi begitu lagi. Ayah bisa obrolin apa aja, ada temennya. Nah ibu sendirian, ngurusin anak-anak, bantu prnya, ngebujuk tidur siang, ngubujuk makan. Ayah kira itu gampang?!”

………

                Pertengkaran itu tak berkesudahan. Meski sebenarnya masing-masing hati mereka membenarkan sebagian perkataan yang lain. Sang istri merasa suaminya benar, ia bisa mengatur jadwal sendiri, bisa melakukan banyak hal, meski sebagian tuduhan lainnya salah. Begitupun dengan suami, ia juga merasa apa yang dikatakan istrinya benar. Di kantornya ia bisa tertawa bersama teman-temannya. Bisa membicarakan rencana tour atau membahas futsal di rabu sore yang sering mereka lakukan. Meski ia juga tidak membenarkan tuduhan lainyya.

* * *

                Inilah sebuah realita. Setiap pernikahan terikat bukan hanya pada kebahagiaan, tapi juga duka. Setiap lelah yang dirasakan adalah bukti pertanggungjawaban. Rasa lelah suami dalam mencari nafkah sudah seharusnya terjadi, karena itu kewajibannya. Dan rasa lelah istri beserta segala sifat bernama jenuh, bosan, sepi adalah perjuangannya, jihadnya sebagai kewajibannya menjadi penjaga amanah suami, atas harta, anak-anak dan segalanya.

Maka bukan rasa lelah itu yang seharusnya menjadi pemicu pertengkaran. Bukankah jika keihlasan kita sertakan, maka kewajiban itu akan berpahala juga menggugurkan dosa?

Seperti juga halnya hidup, perlu ada muhasabah atau perbaikan diri. Sama dengan menikah. Setiap pernikahan pasti diberikan ujian. Jika melihat pada hal di atas, tentu hal ini akan sangat mengganggu jika terus terjadi. Menjadi benar adanya bahwa kerjasama sangat dibutuhkan dalam membina rumah tangga. Ibarat membangun rumah, tak cukup hanya dengan batu bata, perlu pasir, kayu, atap dan semuanya yang bisa menjadikan rumah berdiri.

Tak hanya sekedar tau, itu yang harus hadir dalam relung hati setiap pasangan. Istri harus bisa merasakan apa yang suami rasakan, meski tanpa perlu turut tangan dalam kenyataannya. Mungkin kita bisa menyebutnya empati. Bisa merasakan apa yang pasangan kita rasakan. Ada baiknya jika memungkinkan dalam satu hari saja suami dan istri berganti peran. Maka masing-masing akan merasakan bahwa kita diciptakan sesuai kapasitasnya. Mengapa perempuan harus mengurus rumah? Salah satunya mungkin karena Allah hadiahkan otak khusus yang membuat perempuan bisa mengerjakan banyak hal dalam 1 waktu. Sambil menggendong anak ia mampu mencuci sambil kompor tetap menyala sambil memperhatikan anaknya yang lain yang itu semua tak bisa dilakukan oleh pria. Begitu sebaliknya, pria diberikan naluri untuk fokus, naluri untuk memberi keputusan yang cepat dan akurat sehingga bisa melaksankan pekerjaan tanpa terlibat sejuta perasaan seperti halnya perempuan. Semuanya telah ditetapkan dalam porsinya.

Semoga setiap badai yang menerpa akan semakin menguatkan layar kita untuk menuju tempat yang kita rindukan bersama mereka yang kita cinta… Surga..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s