Mari Belajar dari Memancing

my_boy_fishing_by_eds_art “Jika Ingin Bahagia sehari, maka memancinglah..”

                Begitulah ungkapan yang dulu mungkin pernah kita dengar. Wajar memang, karena memancing terbukti mampu mengurangi ketegangan. Meskipun kadang harus berjuang berjam-jam, perjuangan tersebut biasanya terhapus seketika, begitu kita mendapatkan ikan, sekecil apapun. Bahkan seseorang cukup bisa tersenyum manakala umpannya mulai ditarik ikan.

Memancing terkadang tidak bisa diprediksi. Umpan yang sama, pancing yang sama, bahkan tempat  yang hanya berjarak sejengkal, belum tentu memberi hasil yang sama.

Sering mungkin kita mengalaminya, sudah duduk berjam-jam namun tak ada tanda-tanda ikan mau mendekati umpan, sekalipun untuk sekedar menciumnya. Namun begitu teman (yang baru datang) melemparkan umpannya, persis di sebelah umpan milik kita, ia langsung mendapatkan ikan. Begitulah memancing.

Inilah sepenggal kisah mengenai memancing. Inilah sebenarnya gambaran kongkret mengenai rezeki. Bahwa dalam mendapatkannya, antara orang per orang tidaklah sama, meski menggunakan sarana yang sama dan di tempat yang sama. Hal ini tentulah tidak dipungkiri oleh siapapun.

Dari realitas ini juga tersirat betapa di sana, ada Dzat yang Maha Kuasa, yang Mengatur segalanya. Mengatur hati kita, ketika kita hendak membeli buah-buahan, dan kita melewati puluhan pedagang buah yang sama, sama harga dan kualitasnya dan kita sama sekali belum mengenal penjualnya. Ia juga yang mengatur hati kita, ketika kita hendak membeli roti, dan banyak tukang roti yang lewat di depan rumah kita, sedangkan kita pun tak mengenal semua pedagang itu. Mengatur saat anak kita sakit ketika baru saja kita mendapatkan uang, kaca mata istri yang juga pecah dan lain sebagainya. Sehingga seluruh uang yang baru saja kita dapatkan terkuras, dan bahkan harus berhutang. Mengatur ketika tetangga kita syukuran, lalu mengirimkan makanan kepada kita sehingga kita bisa makan, meski hari itu tidak ada sepeser uang pun yang kita pegang..

Begitulah rizki jika ditelusuri, sangat unik memang. Jika kita menerimanya dengan segala keikhlasan dan dengan sebuah usaha sebelumnya, maka keimanan akan semakin menghiasi hati kita. Sebagai penutup tulisan ini, marilah kita sama-sama merenungi ayat berikut :

“Sesungguhnya Rabbmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya (kepada siapa yang Dia kehendaki); sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hambanya.”

(QS. Al Isra’[17] : 30)

`dikutp dari Buku “Refleksi Seorang Dai”-syaamil 2001, ES. Soepriyadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s