Adhesi Keimanan

adhesi

Adhesi.. sebuah aktifitas dalam istilah fisika yang menunjukkan adanya daya tarik antara dua benda yang berbeda jenis. Contohnya adalah kapur dan papan tulis. Begitu kapur tulis digoreskan di papan tulis, ia akan melekat. Apapun bentuknya, gambar atau tulisan.

Tapi bagaimana jadinya jika papan tersebut diselimuti debu? Atau mungkin kapurnya yang becampur dengan kerikil? Maka kondisinya akan lain. Daya tarik mereka akan berkurang satu sama lain. Debu-debu itu akan menempel di ujung kapur, dan dengan adanya kerikil akan membuat suara yang menyayat dan sangat tidak nyaman di dengar.

Tapi, sadarkah kita bahwa ada debu yang terus menerus ada bahkan semakin tebal namun bisa membantu? Terkadang semakin banyak debu maka menulis pun semakin mudah, karena goresan yang ada menempel di debu, bukan di papan tulis. Sehingga kini debu lah media menulis kita.

Hal ini berlaku bagi keimanan. Dan contoh adhesi keimanan adalah hati dan ilmu. Keduanya saling tarik menarik. Adakalanya prosesnya sangat mudah, namun tak jarang juga terhambat.

Suatu ketika Imam Syafi’i menanyakan perihal sulitnya sebuah proses kepada gurunya, Syaikh Waqi’. Pertanyaan itu antara lain : “Saya bertanya pada Syaikh Waqi’, tentang buruknya hafalan. Beliau menasihatiku untuk meninggalkan maksiat. Karena Ilmu Allah adalah cahaya, sedangkan cahaya tidak pernah bisa menyatu dengan maksiat”.

Jawaban itu memberikan gambaran bahwa maksiat hadir seperti debu penghalang. Namun, sama halnya seperti debu yang semakin banyak itu. Para ulama meragukan apakah maksiat memang bisa menghalangi ilmu? Bukankah Snouck Hurgronje menjadi orang yang mampu menghafal Al-Qur’an meski ia sangat membenci Al-Qur’an  dan Islam? Ini mengagetkan.

Maka mari kita lebih pahami, hakikat dosa itu sendiri. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa “Dosa adalah apa-apa (perbuatan) yang selalu membuat resah di hati, dan timbul perasaan tidak enak jika perbuatan itu dilihat orang.”  (HR. Muslim)

Dari sini kita bisa membenarkan pendapat Syaikh Waqi’, bahwa  perbuatan dosa (maksiat) memang selalu mendatangkan keresahan. Dan keresahan ini yang menimbulkan sulitnya proses belajar dan mengajar. Namun bagaimana dengan mereka yang selalu bermaksiat namun tetap merasa mudah dalam menjalankan proses menuntut ilmu? Ini ibarat debu. Semakin menumpuk dan menumpuk, berkarat dan membatu. Inilah yang menjadi tempat ilmu berdiam. Bukan pada hati.

Beda dengan mereka yang hatinya bersih. Orang-orang yang senantiasa memperbaiki kedekatannya dengan Allah. Ilmu itu membawa pada keimanan. Bukan saja ketika ilmu itu melekat di hati, tetapi ketika pertama kali mendengarkannya. Allah berfirman :

Sesungguhnya orang-orang beriman itu ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka, dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal.”

(QS. Al-Anfal : 2)

(diambil dan dimodifikasi dari buku Refleksi Seorang Dai, ES. Soepriyadi : Syaamil,2001~ Adhesi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s