Antara Pendidikan, Kita dan Ujian

manymagz-nyontek-2

Entah mengapa, mendengar kata pendidikan akan terngiang kata ujian sebagai pasangannya (meski sekarang akan dibahas ujian sebagai musuh pendidikan). Tak ada pendidikan tanpa ujian. Bahkan bagi seorang anak kecil yang tak mengerti makna ujian itu sendiri, untuk memulai kehidupan pendiikannya yang baru di Sekolah Dasar (SD) saja harus melalui seangkaian uji tes.

Benar, benar sekali bahwa ujian hadir untuk membuat kualitas terdidik menjadi lebih baik. Dengan ujian kita akan mengetahui sejauh mana kemampuan kita, sejauh mana ilmu yang telah diajarkan, sejauh mana kita memahami semua yang telah diberikan. Tapi, ada yang terlupakan..

Pendidikan hadir jelas untuk mendidik. Pertanyaannya mendidik apa?? Jika memang pendidikan hadir untuk mendidik anak manusia untuk menjadi lebih baik, mengapa ya masih banyak kasus kecurangan dalam ujian? Salah oknum kah? Tapi apakah ada oknum yang jumlahnya berjamaah??

Hehe, lucu sekali melihat karut marut pendidikan negeri ini. Ada yang lupa diajarkan dalam pendidikan Indonesia. Sehingga ketika ujian datang sebagai sesuatu yang harus ada dalam sistem pendidikan, sikap yang diambil bukanlah seperti seorang petarung menghadapi lawannya, tapi lebih seperti pecundang yang bermain dengan segala cara tak peduli melanggar peraturan atau tidak.

Sebelum mencoba memperbaiki kesalahan itu, kita pasti harus mengetahui dahulu apa kesalahannya? Sebelum kita mengetahu kesalalahnnya, lebih baik kita simak dahulu perkataan Rasulullah Saw berikut.

“Ada tiga tanah di bumi yang bisa menerima air hujan..

1.       Tanah yang mampu menyerap air hujan itu dengan baik. Lalu bergbagai tanaman tumbuh dengan rimbun di atasnya. Itulah tanah yang subur.

2.       Ada tanah yang keras, yang mampu menampung air. Sehingga ada yang bisa memanfaatkan airnya. (seperti untuk irigasi,DAM)

3.       Ada yang bersifat bebatuan. Tak bisa menyerap air, tak bisa menampung air. Air yang datang berlimpah, tak ada yang mampu memberikan manfaat.

 

Apa hubungannya pendidikan, ujian, dengan tanah?? Yups, jika kita mengibaratkan ilmu itu hujan dan tanah itu adalah kemampuan anak didik kita, maka apa yang bisa kita simpulkan?? Ada dua kemungkinan, pertama : anak didik kita bisa saja memiliki karakter seperti tanah yang pertama, tapi ada sesuatu yang membuat mereka tetap tak bisa percaya diri untuk melakukan ujian dengan kemampuan sendiri. Kedua, memang anak didik kita memiliki mental seperti tanah ketiga. Yang tak bisa menyerap apa saja sehingga ketika ujian mereka akan saling bergantung satu sama lain.

Tapi sepertinya, anak-anak Indonesia banyak sekali yang memiliki kemampuan seperti tanah pertama. Mampu menyerap dengan baik semua materi pelajaran. Lantas, jika mereka bisa melaksanakan pendidikan dengan baik, kenapa ya ujian masih menjadi sesuatu yang sangat ditakuti dan berujung pada kesepakatan bersama untuk melakukan kecurangan?

Sistem. Banyak yang menyalahkan sistem. Tak sepenuhnya salah. Bisa jadi memang sistem pendidikan indonesia ini terlalu sulit untuk dipahami. Sehingga hasilnya semua pihak tak bisa mengikuti.

Tapi ada yang lebih penting dari sekedar sistem… tak peduli anak tersebut bersifat tanah pertama, kedua atau ketiga.. yang belum ada dalam sistem pendidikan Indonesia adalah ilmu yang mengajarkan mereka menjadi mandiri dan memecahkan masalah. Saat ini kita hanya terfokus bagaimana anak bisa “menghafal” pelajaran tersebut. Jauh dari kata pemahaman yang berpengaruh terhadap hidupnya di dunia nyata.

Pernahkah terdengar oleh kita bagaimana ketika pelajaran biologi yang mengajarkan struktur sel maka anak-anak akan  diajak bertafakur? Anak-anak diajak untuk mengenal siapa penciptanya, bagaimana Tuhan bisa menghidupkan, mengurus yang kecil hingga yang besar? Sebagian besar hanya dibahas di pengajian atau pelajaran agama saja.

Bagaimana ketika pelajaran matematika bukan hanya sekedar menghafal rumus, tapi lebih dari itu diajarkan tentang memecahkan masalah. Bagaiman ketika pelajaran ekonomi mengajarkan tentang makna uang dan kekayaan yang harus begitu hati-hati digunakan..

Sepertinya hal seperti ini lebih banyak diajarkan di taman kanak-kanak, ketika seorang anak menggambar dan diminta menjelaskan gambarnya, ketika bermain lilin dan guru akan menyebutkan fungsinya. Semua kekreatifitasan dan keterbukaan hanya terjadi di masa taman kanak-kanak.

Entah harus memperbaiki dari mana semua ini, tapi kita harus tetap berkontribusi. Minimalnya dengan memberikan tauladan yang baik untuk anak-anak kita di rumah, mengajaknya memahami bahwa ujian bukan sekedar untuk mendapatkan nilai besar dan gelar kelulusan. Lebih dari itu, semua dimintai pertanggungjawaban.

Wallahua’alam bi shawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s