Saatnya Berbekal.

Gambar“Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

(QS. Al-Jumu’ah: 8)

* * *

                Sautu hari Rasulullah saw menggambar di atas tanah. Gambar yang sederhana namun membawa perenungan yang luar biasa.

                Pertama-tama Rasulullah menggambar garis lurus. Sesudah itu beliau menggambar garis membentuk kotak, yang salah satu sisinya memotong garis lurus yang telah sebelumnya digambar. Sehingga jadilah garis lurus yang pertama itu ada di dalam kotak sebagian, dan sebagian lagi diluar.

                Rasulullah menjelaskan, garis lurus itu seperti keinginan manusia, harapannya, cita-citanya juga mungkin obsesi-obsesinya. Sedangkan gambar kotak yang memotong garis lurus tersebut adalah ajal manusia yang telah ditetapkan.

* * *

                Ya, inilah kehidupan kita sebagai manusia. Dibalik beragam pencapaian, di atas segala usaha dan mimpi ada kematian yang akan memutus segalanya. Namun bukan berarti kita menyerah dan tak mau melakukan apa-apa karena kematian itu sudah jelas. Justru kita harus melakukan yang terbaik, karena setelah kematian itu ada sebuah kehidupan yang jauh lebih nyata dari ini semua.

                Saat ini, ketika kita masih bisa menarik nafas, maka ini adalah kesempatan kita untuk mempersipakan bekal. Bukan hanya bekal untuk hari esok dalam balutan cita-cita yang diiringi ikhtiar kuat, tapi juga bekal jika esok kita tak lagi memiliki kesempatan.

                Dalam sebuah hadits, hadits yang disepakati semua perawi hadits, Rasulullah pernah menyatakan, “Setiap kamu pasti akan diajak bicara oleh Allah. Tidak ada antara dia dengan Allah penerjemah. Lalu dia melihat apa yang paling ia harapkan dan ia tidak mendapati kecuali (amal) yang telah dipersembahkan. Lalu ia melihat apa yang paling ia cemaskan, dan ia tidak melihat kecuali amal yang telah ia persembahkan. Lalu ia melihat di hadapannya, dan ia tidak mendapati kecuali neraka di hadapan wajahnya. Maka jauhilah neraka, meskipun dengan setengah kurma. Dan bagisiapa yang tidak bisa, hendaklah dengan perkataan yang baik.” (Muttafaq’alaih)

                Maka saatnya kita mengais bekal, bertanya pada diri sebanyak apa yang telah kita persiapkan, sudahkah esok terbit benderang sebuah harapan di surga? Atau justru kekelaman? Saatnya membuang rasa malas dan kebiasaan menunda-nunda amal. Saatnya kita berbuat, agar esok tak sampai menyesal.

* * *

“Wahai Abu Dzar, perkokohlah bahteramu, karena samudra itu dalam. Perbanyaklah bekalmu karena perjalanan itu panjang. Ikhlaskanlah amalmu, karena pengintaimu sangat jeli.”

Dari Rasulullah kepada Abu Dzar juga sebagai pengingat kita sebagai ummatnya.

Wallahua’alam bi shawab

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s