Saat Lelah Mencari Rizki Menjadi Pengugur Dosa-Dosa

Gambar“Seseorang di antara kamu mengambil tali dan pergi ke gunung untuk mengambil kayu bakar, lalu dipikul pada punggungnya selanjutnya dijualnya, yang dengan cara ini ia bisa menghidupi dirinya, adalah lebih baik daripada ia meminta-minta kepada manusia, baik manusia itu memberikan atau tidak memberikan.”

(HR. Ahmad dan Bukhari)

* * *

Demikian pesan Rasulullah Saw beribu tahun yang lalu untuk kita semua. Bekerja merupakan sebuah kewajiban bagi setipa muslim. Tidak dibenarkan seorang Muslim berpangku tangan dengan alasan mengkhususkan waktu untuk beribadah atau bertawakal kepada Allah.

Pernah dahulu di masa Rasulullah saw, seseorang terus menerus beribadah sehingga saudaranya yang memberi makan keluarga orang yang beribadah tersebut. Rasulullah Saw menyikapi hal ini  dengan mengatakan bahwa orang yang memberi makan itu jauh lebih baik dari pada orang yang terus-menerus beribadah.

Mengapa bisa demikian? Jawabannya mungkin diantara kita juga sudah mengetahuinya. Itu karena bekerja sama halnya seperti beribadah. Bahkan bekerja disetarakan dengan jihad. Bukankah jihad sebagai salahsatu bentuk pembuktian iman tertinggi?

Dalam hadits lainnya, betapa indah jaminan yang Allah berikan untuk mereka yang bekerja, “Ada sebagian dosa manusia yang tidak dapat diampuni dengan melakukan shalat, puasa, zakat, haji, dan umrah. Tapi dosa tersebut terampuni lantaran keprihatinannya memikirkan nafkah keluarga.” (HR. Imam Muslim)

Para pembaca yang selalu merindukan cintaNya, bekerja adalah sebuah kewajiban yang sangat agung. Islam memerintahkan ummatnya untuk bisa berzakat dan berhaji dimana semua itu tak bisa dilakukan jika kita tak memiliki penghasilan. Islam mengatur bahwa ketika usia anak mencapai 10 tahun, ia harus dipisahkan tidurnya dengan saudaranya yang lain, ini pertanda Islam meminta kita untuk bisa memiliki rumah yang besar, yang itu semua membutuhkan uang untuk mewujudkannya.

Sayangnya, banyak yang gagal memaknai ini semua. Banyak yang sudah menjadi pemimpin perusahaan merasa tenang tatkala perusahaannya terus berkembang. Ia lupa shalat, lupa pada kewajiban lainnya seolah-olah tak ada Allah sebagai pengatur, yang bisa dengan mudah menghancurkan bisnisnya.

Adakalanya kita mungkin harus belajar dari seorang penjual tempe kecil-kecilan. Yang sepanjang malam berdoa kepada Allah agar esok kedelai yang telah ia fermentasi bisa menjadi tempe dan tak gagal berkembang. Juga kepada penjual jajanan di sekolah yang tersungkur khusyuk dalam sujud memohon pada Allah agar dagangannya segera laku. Bagaimana dengan kita?

Bekerja dengan pahalanya yang begitu besar seharusnya bisa menghasilkan kedekatan lebih kepada Allah. Harus bisa menumbuhkan kesadaran bahwa Allah yang berkuasa atas segalanya. Sehingga ketika kelelahan setelah bekerja datang, semua itu bukan menjadi seperti buih di lautan. Na’udzubillah. Biarkan kelelahan itu menjadi penggugur dosa-dosa karena kita melakukan pekerjaan itu untuk Allah dan untuk melanjutkan perjuangan hidup ini.

Betapa indah ungkapan seseorang yang akan terus berikhtiar mencari rizki salah satunya agar “tegaknya shalat”. Ya, perut yang kelaparan tak akan mampu menegakkan tulang punggung untuk menopang shalat yang panjang. Maka sekali lagi, bekerja apapun bentuknya tak hanya sebagai pemenuhan kebutuhan atau bahkan pembuktian bahwa kita telah mampu mencari nafkah. Lebih dari itu sebagai bentuk penghambaan agar setiap lelah digantikan dengan terhapusnya dosa yang entah telah berapa banyak.

Lain lagi seorang kawan, yang lahir dari keluarga sangat kaya, namun ia masih mau menjadi pengusaha yang memulai semua dari nol. Ia menjual celana jeans di pinggiran jalan kota Bandung. Saat ditanya mengapa ia melakukan itu padahal orangtuanya menjamin segala kebutuhannya. Ia hanya menjawab, “saya ingin bisa berzakat maal dan penghasilan dari keringat saya sendiri.” Semua kelelahannya karena ia ingin beribadah kepada Allah dengan segala yang ia bisa kerahkan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang senantiasa memahami bahwa bekerja bukan untuk mendapatkan uang saja, karena sebenarnya Allah telah menentukan rizki kita. Lebih dari itu sebagai sebuah penghambaan kepadaNya dengan harapan terhapusnya dosa-dosa setelah lelah berikhtiar.

Wallahua’lam bi shawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s