masuk syurga dengan membaguskan bacaan Al Quran (2)

tilawah al quran          Memasuki Syurga dengan Membaguskan Bacaan Al-Quran

(Mempelajari Ilmu Tajwid Al-Quran Bagian 2)

Bagi anda yang ingin menyimak dari awal bisa dilihat disini. Sebelum kita membahas lebih lanjut , alangkah lebih baiknya kita berazzam di hati kita bahwa dalam mencapai impian kita agar bisa sempurna dalam membaca Al-Quran (bacaan yang sesuai dengan bacaan Rasulullah SAW) kita harus berusaha semaksimal mungkin. Kita tak perlu meragui Allah, karena Allah lebih mengetahui kita yang telah susah payah mengocek saku kita untuk membeli buku-buku tentang ilmu tajwid, atau usaha kita mencari ahli Qiroah (Ulama ahli dalam ilmu-ilmu bacaan Al-Quran) dan lainnya. Kita hanya tinggal berusaha, dan berusaha lebih lagi, bersabar dan menguatkan kesabaran kita, berdoa ,dan kelak lihatlah keajaiban-Nya pada lidah kita. Allahu Akbar!

Dalam pembahasan ini kita akan memasuki pada bagian terpenting yang harus dipraktekan. Jadi pembahasan kali ini bukanlah tentang hal-hal mendetail dari pembahsan sebelumnya. Saya anggap kita semua telah mengetahui ilmu tajwid dan mengetahui apa-apa yang menjadi amunisi alias hal-hal penting yang berkaitan dan kaidah ilmu tajwid (bila ada yang belum mengetahui baiknya membaca literatur-literatur yang sangat banyak sudah disebarkan diberbagai media). Sekarang maka tugas kita adalah mempraktekannya. Untuk apa?  Tentunya inilah yang menjadi kunci sukses seorang pembaca Al-Quran. Karena ilmu tanpa praktek bagaikan pohon yang tak berbuah. Ia ada keberadaanya tapi ia tidak menghasilkan sesuatu. Bahkan Ali r.a telah memperingati kita dalam khutbahnya “Tidak ada kebaikan didalam amal kecuali amal itu disertai ilmu, tidak ada kebaikan didalam ilmu kecuali ilmu itu disertai pemahaman” .

Selanjutnya disini kita akan mengupas beberapa hal penting yang harus kita perhatikan pada cara pengucapan huruf dan hukum bacaan.

Menyempurnakan Pengucapan Harakat

  1. Agar mudah dalam membaca harakat maka ukuran rahang kita dalam setiap pengucapan harakat fathah, dhammah, kasroh di setiap bacaan tidak boleh berubah. Bila ketika kita mengucapkan hururf berharokat fathah besarnya mulut kita seukuran tiga jari. Maka selamanya harus sebesar itu.
  2. Bentuk mulutpun tidak boleh berubah.

– Pengucapan huruf berharokat fathah adalah menjauhkan rahang atas dengan rahang bawah.

– Pengucapan huruf berharokat kasroh adalah kedua rahang berjauhan bersamaan rendahnya rahang bawah.

-Pengucapan huruf berharokat dhommah adalah kedua rahang berjauhan bersamaan memajukan kedua bibir seperti hamper bertemu.

Menyempurnakan Pengucapan Huruf Sesuai Tempat Keluar Huruf

1. Karena suara huruf tergantung tempat keluarnya maka kita harus paham betul tempat-tempat keluar huruf seluruhnya.

-Baik itu ada yang keluar dari tenggorokan seperti huruf-huruf : ء , ه , ع , ح , غ , خ.

-Ada pula huruf-huruf yang keluarnya dari pertemuan lidah dengan bagian dalam mulut. Contohnya huruf Lam (ل) dapat kita bunyikan sempurnabila lidah kita kita tempelkan pada ujung langit-langit dll.

2. Memperhatikan pengucapan huruf-huruf yang terbiasa diucapkan memajukan bibir/menggerakan bibir untuk dibiasakan tidak seperti itu.

Contoh: huruf  (ض ط ظ ق خ) apabil huruf-huruf tersebut berharokat fathah maka sangat dilarang untuk menggerakan bibir seperti memajukan bibir sebagai terjadi suaranya. Karena hakikatnya fathah adalah hanya menjauhkan rahang atas dan bawah. Selain itu tempat keluarnya pun bukan dari bibir, ingat huruf-huruf yang keluarnya dari bibir hanyalah huruf: (ف م ب و).

1. Memperhatikan perbedaan pengucapan huruf س  dan ص. Jangan sampai bunyi huruf tersebut serupa. Karena huruf Sa (س) itu berdesis.

2. Memperhatikan perbedaan pengucapan huruf dal (د) dan huruf dhodh (ض). Dari segi tempat keluarnya berbeda maka jangan sampai suara yang keluar persis. Ingat, huruf Dhodh termasuk huruf tafkhim (huruf yang dibaca tebal) dan huruf dal adalah hururf tarqiq (huruf tipis).

3. Memperhatikan perbedaan pengucapan huruf dzal (ذ) dan huruf Zho (ظ). Meskipun dari segi tempat keluarnya sama namun mereka memiliki sifat huruf yang berbeda, maka jangan sampai suara yang keluar persis. Ingat, huruf Zho termasuk huruf tafkhim (huruf yang dibaca tebal) dan huruf dzal adalah huruf tarqiq (huruf yang dibaca tipis).

Huruf dzal bersifat Istifal (Menurunkan lidah dari langit-langit ketika pengucapannya) sedangkan huruf Zho bersifat isti’la (Terangkatnya lidah ke langit-langit saat pengucapannya).

Dan semua huruf yang memiliki kesamaan tempat keluarnya pasti memiliki sifat pengucapan yang berbeda. Begitupun sebaliknya huruf-huruf yang memiliki sifat yang sama pasti memeiliki tempat keluarnya yang berbeda.

Kita pahami perlahan-lahan seluruh kaidah diatas terlebih dahulu, insya Allah diartikel selanjutnya ada pembahasan lebih lanjut. Semoga di pembahasan selanjutnya kita telah mahir pada kaidah diatas. Wallahu a’lam bishowab. (LD)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s