Sekilas Abdurrahman bin Auf

kafilah abdurrahman bin auf“Sejak itu dunia datang menghadap kepadaku (hidupku makmur dan bahagia). Hingga aku angkat sebuah batu, maka dibawahnya kudapati emas dan perak.”

Itulah keyakinan sahabat Rasullulloh abdurahman bin auf r.a. dalam menjalani usahanya. Seorang saudagar kaya di mekah pada zamanya. Yang bersedekah apabila di konfersikan dalam rupiah bisa mencapai triliyunan lebih. Sudah banyak buku-buku ataupun artikel saat ini yang membahas tentang bisnis harus dilandasi dengan keyakinan.

Secara logika apabila kitanya saja tidak yakin dengan bisnis yang kita jalani bagaimana costumer/ pelanggan mau membeli produk dari bisnis kita? Tentunya yakin yang proporsional ini berbeda dengan terlalu percaya diri sehingga mengenyampingkan faktor-faktor realita yang terdapat dalam bisnis. Aset dan hutang misalnya. Tapi dalam artikel ini saya sendiri tidak akan membahas tentang aset dan hutang. insyaAlloh apabila masih ada umur kita akan membahas tentang aset dan hutang di artikel berikutnya.

Ok. Keyakinan. Keyakinan adalah sebuah charger yang kembali mengingatkan kita tentang segala macam esensi. Bahkan sangat esensialnya keyakinan ini hampir bisa  disamaratakan dengan tingkat religiusnya seseorang secara spiritual yang akan mempengaruhi keseharian hidupnya. Contoh apabila seseorang itu tidak yakin bahwa mandi itu sehat dan membersihkan secara jasmani. Akankah seseorang tersebut mau mandi? Mungkin, tapi kecil kemungkinannya. Motivasinya bisa jadi Apakah karena dipaksa atau ikut ikutan. Ya keyakinan ini secara duniawi lebih erat kepada mengerjakan apa yang  mempunyai fungsi, manfaat dan makna. Fungsi berbisnis meperkaya diri? Bisa. Sangat bisa. Apalagi…? (para pembaca bisa membahas fungsinya dengan bahasanya masing-masing). Namun sangat sayang apabila fungsi bisnis ini hanya bersifat duniawi saja jika tidak dibarengi dengan kebutuhan ahirat atau bersifat ibadah. Misalnya dengan bisnis saya jadi bisa sedekah lebih banyak misalnya. Atau bisa pergi berangkat haji, umroh dll.

Keyakinan ibarat tali impian (dream) kita yang menjadi sarana untuk meraih mimpi/ cita-cita. Tentunya keyakinan yang optimal ini dibarengi dengan usaha yang real pula. Doa (harapan) juga merupakan sahabat dari keyakinan. Kesabaran adalah nama penantiannya.

Tentunya keyakinan ini harus diuji agar keyakinan tidak hanya berada di alam pikiran saja. Apabila kita menjadi pelaku usaha. Keyakinan ini perlu adanya implementasi atau kerja nyata. Tak mungkin kan apabila kita mau makan kita hanya mikir saja? Tidak. Harus ada usaha untuk merealisasikanya. Dengan caranya masing-masing. Dari meminta-minta atau dengan jual beli. Dan Alloh lebih suka orang yang berusaha/ bekerja ketimbang yang hanya bisa menengadahkan tangannya untuk meminta-minta. Karena meminta-minta adalah pekerjaan orang yang tidak mampu. Mau disebut tidak mampu? Apabila sudah ada kata “tidak mau” atau “saya bisa…” itulah belief atau keyakinan.

Sebagai seorang enterpreneur keyakinan akan senantiasa diuji dengan kenyataan yang tak selalu sesuai dengan idealisme dan kenyamanan kita. Maka dari itu seorang enterpreneur selain memiliki keyakinan yang kuat pastilah sudah melalui tempaan pengalaman yang begitu luar biasa. Mungkin tempaan ini yang membuat manusia tersebut harganya lebih daripada emas, permata atau bahkan berlian.

bolehlah kita menaruh emosi pada keyakinan namun agar lebih seimbangnya keyakinan ini harus bisa pula membuat kita berfikir. Keyakinan ingin pergi umroh misalnya. Lalu kita berfikir bagaimana caranya agar kita bisa pergi umroh? Berapa biayanya? Kita-kira kapan terealisasinya? Setelah mikir lalu implementasi kan dalam usaha-usaha kita. Alloh telah memodalkan kepada setiap manusia dengan modal yang sama. Hanya tinggal kita yang mengoptimalkan modal-modal yang Alloh berikan sebelum modal itu Alloh Ambil kembali. Allahu Alam bii sawab.

Penulis : AAS

Buku refernsi: 7 Rahasia Kaya & Sukses Abdurrahman bin auf.

Rumah buku iqro – Toko buku online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s