Karena Mahar Ini Adalah Keridhaanmu padaNya.. (bagian 1)

Gambar

“Setelah akad terucap satu amanah besar menanti. Masuk surgaNya-kah kelak istri dan anak-anakmu? Itu tanggungjawabmu..

Maka bila saat itu tiba, makin mendekatlahpadaNya.. karena segala kuasa ada padaNya..”

* * *

                Salah satu kebesaranNya adalah cinta. Cinta yang Allah tumbuhkan dalam hati setiap manusia. Yang dengan itu Allah uji segalanya. Maka kadar cinta padaNya adalah bukti keimanan. Seberapa besar kita mencintai segala sesuatu hanya karenaNya.

Dan pernikahan adalah sesuatu yang agung. Sebuah janji yang setara dengan janji para malaikat kepada Rabbnya. Sekukuh janji gunung-gunung pada penciptaNya, sesempurna janji Rasul-Rasul untuk membawa risalahNya. Jika pernikahan salah satu pembuktian cinta dan keimanan, maka tak boleh kita sembarangan dalam melaksanakannya. Mesti ada sebuah persiapan. Agar keberkahan menaungi selamanya.

Dan kini, saatnya kita memahami sebuah syarat sebelum pernikahn itu terlaksana. Salah satu yang sangat penting adalah Mahar (mas kawin). Tapi terkadang banyak yang menganggapnya sederhana, sehingga segalanya hanya bertujuan tak menentu. Seperti sebuah kasus, karena menikah pada 12 desember 2014, maka mahar pun dibuat menjadi 12.122.014. Tak salah, hanya saja.. ada kebaikan yang lebih Allah sukai jika kita memahami lebih tentang perihal ini.

Dalam buku Kupinang kau dengan Hamdalah (M.Fauzil Adhim-Mitra Pustaka), “menurut Shaleh bin Ghanim As-sadlan dalam buku Mahar dan Walimah,. Mahar adalah satu hak yang ditentukan oleh syariah untuk wanita sebagai ungkapan hasrat laki-laki kepada calon istrinya, dan juga sebagai tanda cinta kasih serta ikatan tali kesuciannya..”

Mahar disebut juga dengan istilah indah, shidaq yang berarti kebenaran..

karena mahar menunjukkan kebenaran dan kesungguhan cinta kasih laki-laki yang meminangnya.

Mahar juga merupakan bukti kebenaran ucapan laki-laki atas keinginanya untuk menjadi suami bagi orang yang dicintainya.

Mahar bukanlah harga atas diri seorang wanita. Wanita tidak menjual dirinya dengan mahar..

Tetapi mahar adalah bukti kebenaran, kesungguhan, cinta dan kasih sayang laki-laki yang bermaksud kepadanya

Mahar adalah ungkapan penghormatan seorang laki-laki kepada wanita yang menjadi istrinya.

Mahar menunjukkan kemuliaan wanita, karena wanitalah yang dicari laki-laki.

Mahar bersifat pemberian, hadiah atau Alqur’an menyebutnya nihlah (pemberiaan dengan penuh kerelaan) bukan pembayar wanita.

Mahar menunjukkan kesungguhan seorang laki-laki untuk menikah.

Memberikan mahar merupakan ungkapan tanggungjawab kepada Allah sebagai Asy-syari’ (pembuat aturan) dan kepada wanita yang dinikahinya sebagai kawan seiring dalam meniti kehidupan berumah tangga.

Terakhir, mahar adalah pemberian wajib dari calon suami kepada calon istri. Maka setiap mahar haruslah dipenuhi keridhaan dari dua belah pihak, karena mahar tersebut adalah bentuk keridhaan kita padaNya untuk membangun sejarah baru bersama ia yang telah kita pilih.

* * *

                Setelah kita memahami betapa pentingnya mahar, lalu seperti apakah mahar yang baik itu??

  • Tidak bisa diukur secara kuantitatif

Rumhaisha’ Ummu Sulaim binti Milhan. Ibu dari salah satu pejuang Islam, Anas bin Malik. Setelah meneguhkan mencintai Allah dengan keimanannya, ia diuji dengan tak mau berislamnya Malik bin Nadhar suaminya. Hingga ia pergi berhijrah bersama anaknya. Waktu berlalu, seorang lelaki kafir Abu Thalhah mencintainya.

Rumaisha’ adalah sosok yang teguh pendiriannya, cerdas, berakhlaq mulia, pendapatnya akurat, sehingga membuat semua orang mengaguminya, dan itu yang membuat Abu Thalhah tak berhenti mengejarnya. Maka ketika tiba waktunya, Rumaisha’ meminta sebuah mahar yang indah kepada Abu Thalhah, yaitu “keislaman Abu Thalhah”. Pernikahan itu berlangsung, Abu Thalhah menjadi salah satu yang selalu terdepan dalam berjihad. Dan dari pernikahan ini mereka dikaruniai keturunan yang baik agama, dunia dan akhiratnya.

Dari sini kita bisa belajar bahwa mahar tak selalu berupa barang mewah. Apalah yang lebih indah dari keteguhan iman calon suami? Karena iman itu yang akan membawa pernikahan menjadi penuh keberkahan. Banyak di kalangan kita kini yang meminta hafalan qur’an sebagai maharnya, ataupun beragam bentuk cinta lainnya, selama Allah meridhai dan memebawa keridhaan bagi wanita sebagai penerima hak, serta tak memberatkan laki-laki sebagai pelaksana kewajiban, maka itu diperbolehkan.

  • Hendaknya Sederhana dan Bisa Digunakan Optimal

Tidak ada batasan yang pasti seperti apa mahar yang sederhana itu. Kendati tidak ada batasannya, bukan berarti laki-laki hanya memberi sekedarnya. Bagaimanapun juga ia harus berikhtiar untuk memberikan yang terbaik. Asalkan tidak memberatkan dan sang calon istri ridha, maka carilah mahar yang terbaik.

“Sungguh sebaik-baik kaum perempuan adalah yang paling ringan tuntutan maharnya.”

(HR. Ibnu Hibban dari Ubnu Abbas)

       Rasullullah pernah memberikan mahar kepada salah seorang istrinya senilai 400 dinar. Ini contoh mahar yang besar. Mahar ini merupakan hadiah dari Raja Najasyi yang berkuasa di Habasyah kala itu. Di sisi lain Rasulullah memberikan mahar hampir ke semua istri-istrinya sebesar 500 dirham.

Lain lagi dari seorang wanita istimewa, seorang wanita yang pertama kali akan masuk surga. Fatimah Az-zahra. Putri tercinta Rasulullah Muhammad. Ia adalah wanita luar biasa. Melahirkan generasi-generasi yang luar biasa pula. Ini karena pernikahannya yang barakah.

Sebagian kita mendengar bahwa Fatimah dinikahi Ali bin Abi thalib dengan mahar hasil penjualan baju besinya kepada Utsman bin ‘Affan. Baju besi ini dihargai 400 dirham, konon baju ini Utsman berikan kembali kepada Ali bin Abi thalib. Tapi tahukah kita bahwa uang 400 dirham ini diberikan oleh Ali kepada Rasulullah, dan oleh Rasulullah  sebagian diberikan kepada Asma untuk dibelikan  wewangian, kepada Salamah untuk makanan, dan kepada 3 orang sahabat Rasul ‘Amar, Abu Bakar, dan Bilal untuk dibelikan perabotan rumah tangga bagi Fatimah. Perabotan yang sederhana, bagi seorang putri pemimpin. Dan inilah  Mahar Fatimah Az-Zahra.

Jika Rasulullah mau dengan mudahnya ia bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari ini untuk pernikahan putrinya, tetapi Rasulullah tidak melakukannya.

Itulah mahar bagi Fatimah Azzahra sang penghuni surga, juga mahar bagi Rumaisha’ yang mulia. Bagaimana dengan kita???

Jadikan pernikahan barakah dengan penuh keridhaanNya.

dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia. Agar kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.”

(Qs. Thaaha : 131)

Pembahasan mengenai hukum mahar ketika rumah tangga sudah dimulai, insya Allah akan dibahas pada bagian 2. Wallahua’lam bi shawab.

[dikutip dari buku Kupinang Kau Dengan Hamdalah (M. Fauzil Adhim)  dan Di Jalan Dakwah Kugapai Sakinah(Cahyadi Takariawan)].

One thought on “Karena Mahar Ini Adalah Keridhaanmu padaNya.. (bagian 1)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s