Dalam Kumandang Adzan, Ada Waktu Yang Harus Dipertanggungjawabkan

Gambar

“Sesungguhnya Manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap menjaga shalatnya.”

(Qs. Al-Ma’arij : 19-23)

* * *

                Ada yang resah. Padahal segala yang diinginkannya telah memenuhi kehidupannya. Namun rasa puas itu tak kunjung selesai, menagih dalam setiap detik nafasnya. Meminta diperjuangkan.

Hari itu, salah seorang ulama memberikan sebuah gambaran yang menarik untuk kita pahami. Dalam ketenangannya ia berkata, “Diri kita ibarat sebuah botol. Jika botol itu diisi dengan air teh, maka ia akan mengeluarkan air teh. Jika botol tersebut diisi dengan air kopi, maka ketika kita menuangkannya akan kita dapati kopi yang keluar dari botol tersebut. Apa yang keluar dari mulut kita, dari sikap kita, dari cara kita melihat, adalah cerminan dari apa yang kita berikan pada diri kita. Ketika kita terlalu sering mendengarkan kata-kata yang buruk, maka tak akan jauh dari itulah kata-kata yang akan keluar dari mulut kita.”

Di lain waktu dan tempat, seorang lelaki terbangun dari tidurnya. Ia dapati matahari telah tinggi. Bergegas ia pergi ke tempat bekerja, tak sempat untuk sekedar melaksanakan kewajiban dua rakaatnya. Saat matahari semakin tinggi, ia hanya menikmati pekerjaannya, mencari cara mencapai target yang diberikan atasannya.

Adzan berkumandang. Ia menatap jam dan pergi ke bawah untuk makan siang. Dalam batinnya ia merasakan perutnya lebih membutuhkan asupan setelah lelah bekerja. Ketika ada yang mengajaknya shalat, ia hanya menjawab, “ok nanti menyusul, lunch dulu”. Sayangnya saat makan ia terlalu asik bercengkrama. Hingga sampailah pada akhir waktu istirahat, dan menatap banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan. Hingga ia “lupa”  untuk menunaikan kewajiban empat rakaatnya.

Sampai adzan berkumandang lagi. Ia merasa badannya terlalu kotor. Memilih shalat di rumah selepas kerja. Sayangnya, macet menyapanya. Sambil mendongkol karena macet, ia menyalakan radio dan menikmati musik, tanpa rasa bersalah. Hingga radio pun memutarkan adzan maghrib. Ia kembali melewatkan kewajibannya.

Sesampainya di rumah, ia terlalu lelah untuk segera beranjak dari sofa yang baru didudukinya. Sekedar duduk sebentar menyegarkan tulang-tulang. Tak terasa adzan isya berkumandang. Ia mandi, makan malam dan terasa perutnya lelah mencerna makanan, membuatnya merasakan kantuk, sehingga ia pun lelap tertidur tanpa merasa takut, “Akankah esok masih ada kesempatan baginya untuk membuka mata?”

* * *

                Semuanya nyata. Terjadi dalam lingkup kita. Kenyataan bahwa mengapa banyak manusia yang tega berlaku ini dan itu. Menjadi liar seolah bukan manusia, itu karena apa yang dilakukannya di kesempatan waktu yang Allah amanahkan.

Bukan satu atau dua manusia yang berlagak lupa pada kewajibannya untuk menunaikan shalat fardhu. Beragam alasan muncul, mulai dari merasa tak perlu, sampai merasa itu bukan kewajiban.

Bagi mereka yang merasa tak perlu, itu karena bisa jadi mereka merasa telah bisa mendapatkan banyak hal bahkan tanpa shalat yang didirikan. Ada juga yang merasa karena itu tak berguna. Padahal ia tengah dalam kesulitan dan beragam himpitan. Tapi baginya, shalat bukanlah jalan keluar. Itu hanya ritual yang mungkin hanya akan menghabiskan waktunya mencari pemecah masalahnya.

Bagi mereka yang merasa shalat 5 waktu bukanlah kewajiban. Maka mereka berada pada posisi yang sangat mengkhawatirkan. Bukan hanya merasa tak perlu, tapi mereka sudah merasa ini bukanlah bagian dari hidup mereka. Mereka yang merasa tak perlu kemungkinan besar menyadari bahwa shalat itu wajib, hanya saja mereka merasa ada hal lain yang lebih bisa dilakukan dari pada shalat. Sama halnya seperti perintah memakan habis antibiotik, mereka yang merasa tak perlu tahu bahwa itu wajib, namun bagi mereka setelah sembuh sudah cukup dan tak perlu lagi mengkonsumsinya sampai habis. Tapi bagi mereka yang merasa tak wajib, lain halnya. Mereka sudah menyepelekan, merasa tak akan memberikan efek apa-apa dalam hidup mereka. Inilah sikap kafir, yang menolak ajaran Rasul untuk taat kepada Allah, bukan pada berhala. Mereka bukan hanya merasa tak perlu, tapi mereka berkata “ini hanya kebohongan yang dibuat-buat”, mereka menyangkal, tak mengakui dan kemudian bangga dengan apa yang telah diperbuatnya tersebut.

Shalat tak sekedar sebagai pelepas kewajiban, sehingga ketika adzan berkumandang ada yang hanya sekedar bergerak, tanpa menghayati makna dalam shalat tersebut. Shalat lebih dari sekedar itu semua. Ia adalah bukti penghambaan kita, waktu yang tepat untuk kita mengambil rehat dalam padatnya aktifitas kemudian meminta kekuatan kembali pada Ia yang Maha Kuasa. Shalat berarti doa, memohon petunjukNya, mengajakNya berbicara hati ke hati, mencurahkan semuanya.

Dari shalat kita belajar betapa Islam meninggikan waktu, karena waktu begitu berharga. Setiap adzan yang berkumandang terjadi bersamaan dengan perubahan posisi matahari pada titik sempurnanya. Ia mengingatkan kita bahwa yang terjadi pagi tadi, yang baru saja terjadi beberapa detik tadi telah berakhir dan menjadi sejarah. Tak akan terulang dan hanya bisa disesali atau disyukuri.

Shalat Allah katakan sebagai pencegah dari perbuatan yang buruk. Jika banyak yang berkata, “ia sering shalat, tapi kelakuan masih seperti syetan, apa manfaatnya shalat?”. Bertanyalah kita pada hati nurani tentang pernyataan ulama tadi, bahwa “Jika botol tersebut diisi dengan air kopi, maka ketika kita menuangkannya akan kita dapati kopi yang keluar dari botol tersebut”. Pertanyakan shalat itu. Jika ia shalat dengan baik, maka ia akan menjadi manusia yang baik. Jika ia shalat dengan tujuan selain Allah, maka ia akan melahirkan sifat yang bertentangan dengan yang seharusnya.

Belajarlah kita untuk memahami shalat. Sebagai sesuatu yang kelak akan pertama kali dipertanyakan. Dunia ini terlalu melelahkan jika terus dikejar. Dengan shalat kita akan semakin mengerti bahwa kita tak hidup dengan sendirinya, ada yang mengatur segalaNya. Maka ketika shalat tak pernah kita tegakkan, kita akan kehilangana arah, mengejar segalanya tanpa kepuasan dan berujung pada lelah yang sia-sia.

Apalah artinya segala lelah itu, jika ternyata Allah berkata ”semua itu hanya seperti buih dilautan”……

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s