Saat Kita Pulas Terlelap Dalam KetetapanNya


“Dengan Menyebut NamaMu yaa Allah, Aku hidup dan Aku mati.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

                Hadits di atas adalah arti dari doa yang mungkin paling sering kita baca. Yaitu doa hendak tidur. Bismika Allahumma Ahya wa Bismika amuut. Doa ini menjadi salah satu doa yang pertama kali orang tua, guru dan orang-orang kebanyakan ajarkan kepada seorang anak muslim. Mengapa doa ini sangat penting?  Karena kita terlalu sering merasakan lelah dalam hidup ini yang berujung pada tisur, sehingga doa ini menjadi doa yang seharusnya paling kita maknai.

Sayangnya, banyak yang hanya sekedar membaca doa ini, tanpa mau mencari tahu apa makna dari doa ini. Maka insya Allah hari ini kita akan sama-sama belajar, tentang sebuah kenikmatan yang Allah titipkan, ia adalah kelelahan yang berujung tidur.

Tidur menjadi sebuah aktifitas yang sangat kita butuhkan. Banyak orang yang memilih untuk tidur untuk sekedar menghilangkan kebingungan akan masalah yang ada, dan berharap ketika membuka mata, permasalahan tersebut bisa menajdi  lebih ringan. Tak sepenuhnya salah, karena saat tertidur ruh kita lepas,mengangkasa.. membuat permasalahan yang ada sejenak berhenti dan diganti dengan kenikmatan dalam lelap.

Tapi bagi seorang muslim, tidur bukan hanya untuk sekedar itu. Bukan hanya sebagai sarana untuk sekedar  “mengerem masalah”, tapi setiap yang dilakukan haruslah menjadi ibadah. Termasuk ketika rasa lelah hadir dan kita memilih tidur sebagai alternatifnya.

Gambar                Lelah. Adalah satu kata yang sering hadir bersama kata tidur. Seseorang tertidur pulas karena ia telah melalui hari yang sangat melelahkan. Dalam lelahnya tersebut ada sebuah perjuangan yang ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan mungkin kenikmatan tidur itu dibeli dengan sebuah kelelahan.

Sebuah hadits hadir menggetarkan kita, ketika diceritakan saat itu seorang lelaki tengah bekerja keras, sangat nampak dari wajahnya rasa lelah yang disertai kesungguhan. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, sekiranya yang ia lakukan itu dinilai berjuang di jalan Allah?”, dan kemudian Rasulullah menjawab, “kalau ia keluar rumah untuk bekerja keras demi anaknya yang masih kecil, maka ia pejuang di  jalan Allah. Jika ia keluar demi kedua orangtuanya  yang renta, maka ia pejuang di  jalanAllah. Jika ia keluar untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan demi menjaga kehormatan dirinya, maka ia pejuang di  jalan Allah. Tapi  jika ia keluar karena mengejar angkuh dan besar diri, maka ia berjuang di jalan syetan.”  (HR. Athabrani)

Bagaimana dengan kita? Bagian dari poin manakah lelah yang kita rasakan? Semoga kita termasuk dalam 3 golongan teratas tersebut. Aamiin. Dari sini seharusnya kita mampu bertafakur atau belajar, betapa kita ini lemah dan tak berdaya. Kita mungkin hebat, tetapi kita tak bisa menjangkau semua hal. Kita juga mungkin pandai, tapi kita tetap tidak bisa menguasai seluruhnya. Sekuat apapun kita, ada jeda dan istirahat yang mesti kita ambil. Sebab rasa lelah itu ada bersama segala pencapaian kita. Maka dengan rasa lelah harusnya kita tersadar bahwa kita ini lemah. Sekuat apapun ambisi kita, kita tetap membutuhkan tidur barang satu atau dua jam yang penting sudah memejamkan mata.

Namun sadarkah kita bahwa lelah itu hadir sebagai siklus, sebagai sebuah risiko yang harus kita pertaruhakan demi sebuah keinginan akan perbaikan hidup. Perkataan Ibnu Qyyim semoga bisa membuat hati kita semakin sadar, bahwa kita tetap bukan siapa-siapa di hadapanNya.

“Orang-orang berakal dari seluruh umat sepakat bahwa nikmat itu tidak bisa dicari dengan cara yang nikmat. Dan barang siapa bersantai-santai, justru akan kehilangan kenyamanan yang sesungguhnya. Sebab, seperti apa kadar kesulitan dan kelelahan, seperti itu pula kenyamanan yang akan didapatkannya. Tak ada kesenangan bagi yang tak punya kehendak kuat. Tak ada kesenangan bagi yang tak punya sabar. Tak ada karunia kenikmatan bagi yang tidak bersusah-susah. Tak ada kebahagiaan bagi yang tak berlelah-lelah. Bahkan bila seorang Muslim mau berlelah sedikit, sesungguhnya itu berbalas kelapangan yang panjang. Jika ia mau menahan beratnya sabar barang sesaat, ia akan diantarkan ke kehidupan yang lebih abadi. Semua jalan menuju kenikmatan,memerlukan saat-saat kesabaran. Dan hanya Allah tempat meminta pertolongan.”

Betul jika kita kini teringat pada sebuah peribahasa, “bersaki-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Rasa lelah adalah paket yang menyertai sebuah keberhasilan. Maka saat rasa lelah itu hadir, kita harus menumbuhkan rasa tunduk kita kepada Allah. Betapa kita tak bisa terlepas dari pertolongan Allah yang tak pernah merasakan lelah.

Saat lelah hadir adalah saat terbaik untuk kita bermunajat pada Allah. Kita harus sadari bahwa Allah tak pernah tertidur walau hanya sedetik saja. Berbeda dengan kita, yang sedikit saja merasakan kelelahan lalu dalam hitungan detik kita telah kehilangan segalanya. Kehilangan tawa yang sebelumnya menggelegar, kehilangan semangat yang sebelumnya berkobar, kehilangan prestasi yang baru dicapai, kehilangan kendali atas kewaspadaan kita. Kita lelap dalam tidur, menjadi lemah seperti bayi yang baru dilahirkan. Bahkan seekor nyamuk menggigit dan menghisap darah kita hingga kenyang pun tak sanggup membuat kita terbangun. Masihkah kita mau bangga dengan segala yang telah kita capai?

Doa sebelum tidur menjelaskan pada kita bahwa batas  antara tidur dan mati sangatlah tipis. Oleh karena itu kita diminta berdoa, berdoa dengan penuh kepasrahan. Karena sejatinya, saat tidur kita menyerahkan segalanya pada Allah, bahkan hidup ini.

Marilah kita lebih memaknai rasa lelah bukan hanya dengan mengeluh dan bersusah payah. Mereka yang berbuat jahat dan melakukan kekafiran kepada Allah pun merasakan lelah, tetapi orang beriman mempunya kadar yang berbeda dalam lelahnya.. “jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang (orang kafir) tidak harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.”

Kita harus menyetujui bahwa rasa lelah mempunyai siklus. Ia bisa datang dan pergi. Ia datang bila sudah pasti waktunya dan pergi saat kita mampu melaluinya. Yang terpenting dari semua adalah ketika kita telah menyadari bahwa rasa lelah hadir menyapa tauhid kita. Seberapa besar kita sadari bahwa Ia tak pernah sedikitpun lelah dan bosan, bahkan hingga kita berada di titik kelelahan dan kebosanan tertinggi.

Wallahua’lam bi shawwab.

(beberapa dikutip dari majalah Tarbawi edisi 256 tahun 2013 “Rasa lelah hanya siklus, lalui saja”)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s