nasihat pernikahan : mampu memberi nafkah keluarga

nasihat pernikahan siap memberikan nafkah bagi keluargaAntara Kesiapan “Memberi” dan “Mencari” Nafkah

(sebagian besar dikutip dari buku Saatnya Untuk menikah, oleh  Mohammad Fauzil Adhim)

Demikian tidak siapnya.. sampai-sampai istri harus mengambil secara diam-diam dari saku suami, karena tidak diberi nafkah yang mencukupi..

Bismillahirrahmanirrahim..

Pernikahan..adalah sesuatu yang begitu Allah cintai. Bahkan Allah memberinya porsi setengah Agama yang telah disempurnakan bagi yang sudah menikah. Namun menikah tak hanya sekedar janji yang mungkin hanya terucap dalam beberapa detik di hari akad, lebih dari itu, pernikahan adalah ibadah, tempat dimana Allah turunkan ketenangan bagi masing-masing jiwa, waktu dimana berpindahnya kewajiban imam ayah anak perempuan ke pundak suami putrinya, serta beragam kemuliaan lainnya.

Tak terlepas dari itu, nafkah menjadi salah satu hal yang kerap membawa porsi berat dalam rumah tangga. Begitu banyak pernikahan yang hancur hanya karena salah satu berpenghasilan terlalu besar, namun lebih sering karena berpenghasilan terlalu minim. Miris rasanya, karena seolah-olah cinta yang terikat itu harus pudar bersamaan dengan pudarnya rupiah dari dalam dompet.

Ini yang mesti kita pahami..

Seorang laki-laki terutama berkewajiban mencari nafkah bagi keluarganya, namun tak hanya sekedar mencari, ia juga harus memiliki kemampuan memberi. Saat ini persepsi masyarakat tertuju pada satu kesimpulan bahwa yang mampu memberi nafkah adalah mereka yang berpekerjaan tetap, dan pekerjaan tetap identik dengan suatu profesi tertentu. Sementara profesi merupakan jenis pekerjaan yang disediakan untuk perusahaan penyedia lapangan pekerjaan. Itu pun hanya bisa dijalani jika kuliah telah selesai.

Lantas apakah ini berarti mereka yang tak kuliah, tak berprofesi tertentu, tak berpekerjaan tetap adalah mereka yang tak mampu memberi nafkah?

Beginilah pendapat yang mestinya kita pahami,

“kewajiban kita memberi nafkah tidak bersangkut paut sama sekali dengan adanya pekerjaan tetap atau tidak. Kewajiban memberi nafkah pada istri –dan jangan lupa pada diri sendiri- HANYA memberi implikasi agar kita bersedia memeras keringat sehingga dari keringat yang menetes ada rezeki yang bisa kita berikan kepada diri kita dan orang2 yang menjadi tanggungan kita. Adapun bagaimana bentuknya, tidaklah menjadi pentinga sejauh msih halal.”

Yang terpenting saat ini adalah bekerja, bukan “apa pekerjaan kita?”. Terkadang hal ini menjadi penghalang potensi beberapa pihak. Ada yang begitu ingin terus berprofesi sehingga ketika orang bertanya “kerja Apa Mas?”, ia tak bingung lagi menjawabnya karena punya gelar. Padahal, bekerja berarti memenuhi amanah Allah, dan soal rizki akan menjadi tanggunganNya, sedangkan menyebutkan jenis pekerjaan belum tentu menggambarkan bahwa seseorang itu memang betul2 serius bekerja.

Maka, sekali lagi..kesiapan memberi nafkah bukan hanya sekedar mampu menjawab apa pekerjaan kita, tapi lebih dari itu adalah saat kita bisa mengerti apa hakikat bekerja dalam posisi kita sebagai hambaNya.

Mungkin kita bisa sedikit mengevaluasi, apakah kita lebih suka makan dengan hasil keringat sendiri ataukah lebih suka bahkan berharap menikmati pemberian? Da yang menikah karena berharap orangtua istri (mertua) berkecukupan rizki. Berhati-hatilah, karena Rasul mengingatkan:

terlaknatlah orang yang mebebankan semua kebutuhannya kepada orang lain.”

Bagi muslimah, jika yang “datang” padamu memang seseorang yang baik agamanya, ia akan berhati-hati dalam perkara ini.  Menggantungkan segala yang dibutuhkannya kepada orang lain akan membuatnya takut karena mengingat Rasulullah pernah bersabda dalam sebuah hadits shahih,

                “Selalu meminta-minta itu dilakukan oleh seseorang di antara kamu sehingga dia bertemu Allah dan tidak ada di mukanya sepotong daging.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baginya, apalah artinya bertemu Allah tanpa sepotong daging pun di wajahnya??

Adapun bagi yang masih menempuh pendidikan namun sudah menikah tetapi  nafkahnya ditanggung orang tua, terdapat dua kemungkinan. Kemungkinan pertama boleh jadi dia pemuda yang ingin bersungguh-sungguh memenuhi nafkahnya sendiri, tetapi orangtua  memintanya untuk tidak mencari nafkah terlabih dahulu disebabkan besarnya keinginan orangtua agar anaknya fokus menyelesaikan studi. Kemungkinan kedua, adakalanya seseorang telah berusaha mencari nafkah, tetapi ia masih belum mampu memenuhinya sehingga ia tetap menerima santunan dari orangtua.

Antara siap mencari dan memberi pun dapat terlihat dari, apakah ia lebih mendahulukan ikhtiar dari pada menyerah pada keadaan. Seringkali terjadi, seseorang diberi kemampuan untuk berikhtiar memenuhi kebutuhannya sendiri, tetapi tidak melakukannya. Bukan karena ada sesuatu yang lebih utama untuk dikerjakan, melainkan karena keengganan atau karena berpanjang angan. Ketiak apa yang dihadapi tak sesuai dengan yang dibayangkan (berharap kuliah bisa membuat kerja lebih mudah misalnya), mereka menyerah pada keadaan sebelum berikhtiar. Bukan tidak mau berikhtiar, tapi tidak mau menjalani proses untuk berkeringat-keringat dahulu. Mereka inilah yang salah satunya tidak memiliki kesiapan untuk memberi nafkah dan bertanggungjawab atas dirinya sendiri.

Bagi mereka yang telah menetapkan niatnya dengan sungguh-sungguh untuk berikhtiar mencari ma’isyah, tetapi masih belum mendapatkan yang cukup, meskipun telah mengerahkan seluruh kemampuannya, hendaklah ia bersabar sampai Allah memberi kemampuan baginya.

Adapun jika ia telah berusaha dengan sepenuh kemampuan dan tetap tak memperoleh kecukupan, sedangkan ia sampai ke taraf yang sangat mendesak baginya untuk menikah, marilah kita mengenang ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a berkata:

“Taatlah kepada Allah dalam apa yang diperintahkan kepdamu, yaitu perkawinan, maka Allah akan melestarikan janjiNya kepadamu, yaitu kekayaan. Allah telah berfirman, ‘jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya.”

Sesungguhnya hanya Allah tempat menggantungkan harapan. dariNya segala pertolongan akan datang pintu-pintu rizkiNya membentang luas dari arah yang tak disangka-sangka.

Wallahua’lam bi sh-shawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s