pendidikan yang dipaksakan

sumber gambar: koran-jakarta.com

Hari ini, pendidikan ibarat mati suri. Namanya saja pendidikan, padahal ternyata didalamnya tidak lebih hanyalah kegiatan formalitas belaka membaca buku, menulis tugas dan mengerjakan ujian. Akan tetapi dari seluruh kegiatan formalitas ‘belajar’ ini cukup menghabiskan waktu sangat besar dalam kehidupan siswa. Bahkan tidak jarang ada beberapa siswa yang mendapatkan jadwal belajar dari pagi pagi buta hingga menjelang maghrib tiba. Mereka diminta untuk belajar dengan bahan materi yang kian padat, kian rumit dan semua itu dipaksakan masuk ke dalam kepala setiap siswa.

 

Apakah semua ini merupakan pendidikan yang kita harapkan? Mereka pergi ke sekolah untuk mendapatkan sekian banyak informasi yang kering. Informasi yang layaknya iklan iklan di televisi, banyak namun tidak menggugah untuk melakukan sesuatu. Informasi layaknya iklan yang menghabiskan durasi waktu namun hanya sekilas saja kita ketahui. Belajar bukanlah seperti itu, belajar adalah sebuah proses mendapatkan sebuah pengetahuan dan mengejawantahkan pengetahuan itu dalam kehidupan yang kelak dia bisa bertahan hidup, bermanfaat dengan ilmu yang dia ketahui itu.

 

Lalu hasil dari pendidikan ini, bisa kita lihat dari hasil dan bagaimana sikap beberapa siswa belakangan ini. Mulai dari tingkah laku mereka hingga kenakalan kenakalan mereka. Dari tingkah laku kebanyakan dari mereka mulai egosentris dan cukup skeptis dalam menyikapi berbagai masalah kehidupan aslinya. Banyak anak yang malas untuk mencoba hal yang baru, jarang bergerak (terlalu banyak duduk di kelas), banyak melamun dan tidak sedikit pula yang stres dengan apa yang setiap hari dia jalani. Jika dilihat dari kenakalan, tawuran, bolos sekolah, dan segala hal lainnya yang menjadi pelarian akan sekolahnya yang terlalu ‘banyak tekanan’. Sedihnya juga ketika beberapa waktu yang lalu ada kejadian tawuran di beberapa sekolah. Dan ketika seorang kepala sekolah ditanya “bagaimana agar tawuran tidak terjadi?” justru kepala sekolah ini memberikan jawaban “ siswa akan diberikan pelajaran tambahan agar waktunya lebih sedikit untuk melakukan hal hal negatif dan difokuskan dalam belajar”. Apakah penambahan jam pelajaran dengan perbaikan moral siswa ada korelasinya? Menurut saya tidak, justru adanya tawuran dan berbagai hal lainnya adalah selain karena faktor lingkungan luar sekolah yang sangat dinamis, peran media dalam mengumbar kekerasan, serta adanya tingkat kejenuhan yang sangat dari para siswa dalam meraih mimpinya dalam pendidikan indonesia. -red-

One thought on “pendidikan yang dipaksakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s