Beranda » mari memperbaiki ibadah kita » melakukan nazar dalam pandangan islam

melakukan nazar dalam pandangan islam

ingin beli bantal selimut atau bed cover?

Follow me on Twitter

jadwal tema di Rumah Buku Iqro

Senin : Memperbaiki Ibadah
Selasa : Tips Bisnis
Rabu : Kabar Pendidikan
Kamis : Memperbaiki Ibadah
Jumat : Nasihat Pernikahan & Keluarga
Sabtu : Mendidik Anak
Ahad : Berbagi Manfaat

Arsip

Kirim Tulisan

Yang ingin mengirimkan tulisan bisa untuk kirim via Message Twitter : rbi07 Email : rbiqro@gmail.com
var _wau = _wau || []; _wau.push(["tab", "2vgqwaxhweb9", "8xk", "left-middle"]); (function() {var s=document.createElement("script"); s.async=true; s.src="http://widgets.amung.us/tab.js"; document.getElementsByTagName("head")[0].appendChild(s); })();

melakukan nazar dalam pandangan islamPandangan islam mengenai nazar

Artikel ini merupakan kutipan ceramah bada shubuh ketika itikaf di hari ke 24 Ramadhan 1434 dari ust Abdul Aziz Abdul Rauf al hafidz. Ketika itu adalah hari jumat terakhir di bulan ramadhan tahun 2013.

Rasulullah saw, selalu membiasakan 2 surat ketika sholat shubuh di hari jumat. 2 surat itu adalah surat As Sajdah dengan surag Al Insan. Dalam surah Al Insan yang sudah kita dengar dalam rakaat kedua sholat shubuh, kita mendapati sebuah ayat yang dimana Allah memberikan sebuah pujian, memberikan sebuah kabar gembira surga kepada orang orang beriman yang melakukan amal shalih, dan diantaranya adalah yang melakukan nazar..

Mereka memenuhi nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata dimana mana (Al Insan : 7) dan Allah memberikan kabar kepada mereka

Maka Allah melindungi mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan. (Al Insan : 11)

Secara umum nazar adalah berjanji, berjanji akan melakukan sesuatu. Hanya saja Rasulullah saw pernah memberikan sebuah ungkapan, siapa yang melakukan amalan karena nazar dia termasuk orang yang bakhil ataupun pelit. Jadi ada dua dalil yang bertentangan, dalam al quran, Allah memuji dan memberikan kabar gembira bagi mereka yang nazar, akan tetapi Rasulullah juga mengingatkan untuk orang orang yang bernazar hati hati agar tidak terjerumus kepada sifat bakhil.

Nazar orang orang yang bakhil

Adalah nazar yang mengharuskan ada syarat terlebih dahulu. Misalnya, ya Allah, jika saya berhasil sukses dalam bisnis saya maka saya akan melakukan puasa senin kamis selama 1 bulan. Ini termasuk jenis nazar yang bakhil atau pedit. Atau hal lainnya misalnya jika anak saya ini sembuh, atau jika istri saya sembuh saya akan melakukan sholat duha selama sebulan.

Nazar dikatakan bakhil, pedit, makruh ketika kita ingin melakukan suatu amal dengan persyaratan. Jadi terkesan kita seperti mengakal akali Allah, Ya Allah, kalo saya dapat ini, maka saya akan melakukan amalan ini dan ini. Jadi kita seperti ingin mengharapkan mendapatkan takdir tertentu, dan bisa membuatnya, membantu mewujudkannya dengan nazar. Padahal Rasulullah pernah bersabda nazar tidak bisa merubah takdir. Lalu di sisi yang lain, amalan itu semua yang kita lakukan adalah untuk kita sendiri, Allah tidak membutuhkan amalan kita, jadi buat apa kita bernazar dan menjadikan itu syarat kepada Allah untuk memberikan takdir yang sesuai kita harapkan.

Adapun cara yang benar untuk membantu mewujudkan yang kita harapkan adalah bukan dengan bernazar, akan tetapi dengan melakukan amal shalih, lalu berdoa kepada Allah…. Ya Allah jika amalan ini Engkau ridhai, mudahkan hajatku….. sebagaimana yang dicontohkan dalam riwayat Rasulullah mengenai 3 orang beriman yang terjebak dalam gua yang terhalang batu besar.

Nazar yang mendapatkan pujian Allah

Ini adalah janji untuk melakukan amal shalih tanpa adanya syarat tertentu. Seperti seorang sahabat Rasulullah, yang ketika Rasulullah mengucapkan bacalah al quran dalam sebulan, sahabat ini mampu melakukannya dan bilang kepada Rasulullah, wahai Rasulullah saya masih sanggup, ingin lebih banyak lagi. Lalu kata Rasulullah baca al quran dalam 2 pekan (berarti mengkhatamkan al quran dalam 2 pekan) sahabat inipun masih sanggup dan ingin lebih banyak lagi. Singkat cerita sahabat ini membaca mengkhatamkan al quran dalam 3 hari saja, atau sekitar 10 juz perharinya lalu sahabat ini bernazar kepada Allah untuk melakukan hal ini sampai akhir masa hidupnya.

Ketika berita nazar sahabat ini sampai kepada Rasulullah, Rasulullah saw memberikan nasihat, janganlah seperti itu, karena bisa jadi kamu nanti tidak sanggup, tapi sahabat ini tetap bersikeras, ngotot saya sanggup, saya bisa.. ia kamu bisa tapi nanti ketika kamu sudah tua, ketika fisik dan tubuhmu tidak sekuat sekarang kamu bisa saja tidak akan sanggup, tapi sahabat ini tetap bersikeras untuk melakukannya.

Alhamdulillah, ternyata Allah memberikan umur yang panjang kepada sahabat ini sampai 90 tahun, dan dia baru menyadari “benar juga kata Rasulullah, andai saja aku mengikuti nasihat Rasulullah untuk tidak melakukan hal ini sampai akhir hidupku…” sahabat ini cukup kesulitan akan keadaan fisik dan usia yang senja, akan tetapi Alhamdulillah berkat rahmat Allah sahabat ini tetap mampu menyelesaikan membaca al quran dalam kurun waktu 3 hari hingga dia wafat. Allahu akbar.

Nah… pada nazar yang seperti inilah, firman Allah dalam surah al insan tadi berlaku.

Pelajaran yang bisa kita ambil

Ibrahnya apa dalam nazar ini? ibrahnya, hikmahnya, pelajaran yang bisa kita ambil adalah keharusan bagi kita semua untuk memiliki amal yang tamayyuz, amal unggulan yang menjadikan kita terbaik di hadapan Allah.

Sahabat tadi tamayyuznya adalah membaca mengkhatamkan al quran selama 3 hari. Ini menjadi amalan unggulannya. Begitu juga dengan sahabat sahabat yang lain. Ada yang tamayyuznya adalah berprasangka baik kepada seluruh manusia. Sahabat ini di sebelum tidurnya sepanjang hayatnya selalu berdoa, ya Allah kepada seluruh manusia yang hari ini berbuat tidak baik kepada hamba, hamba memaafkannya ya Rabb… ampuni mereka… sepanjang hidupnya melakukan ini, dan Rasulullah menyebut sahabat tadi sebagai ahlul jannah (penghuni surga)!

Atau seperti abu bakar yang memiliki amalan tamayyuz yang sangat beragam, bahkan ketika dalam waktu selesai sholat berjamaah, pernah Rasulullah bertanya, siapa yang kemarin melakukan sholat malam, banyak yang mengacungkan tangan, siapa yang kemarin melakukan amalan A, yang mengacungkan tangan semakin sedikit, dan Rasulullah saw terus mengevaluasi amalan para sahabatnya sampai pada pertanyaan, siapa yang kemarin menjenguk orang yang sakit? Tersisa satu tangan yang masih teracung, itulah abu bakar!

Itulah sedikit bahasan mengenai nazar, semangatnya adalah mengajak kita semua untuk memiliki amalan tamayyuz yang mampu memberikan ridha Allah kepada kita.

Semoga bermanfaat

Ceramah bada shubuh I’tikaf masjid habiburrahman Bandung.

Rumah buku iqro – toko buku online bandung

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pengen beli buku ttg pernikahan-membina rumah tangga

pengen beli buku bisnis – marketing?

pengen beli buku ttg keluarga?

pengen beli buku islam atau fikih islam?

pengen beli buku buku dakwah?

pengen beli buku novel terbaru?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.868 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: